ARTIKEL=IKLIM DUNIA
Oleh:khoirul ikhwan
Gejala anomali cuaca mulai
kita rasakan saat ini. Memang, dunia kini sedang menghadapi fenomena pemanasan
global (global warming) yang berakibat pada perubahan iklim (climate change).
Jika dulu kita bisa memprediksi musim hujan dan musim kemarau, kini kondisinya
sudah tidak seperti biasanya. Dampak perubahan iklim juga sudah mulai dirasakan
tdak hanya oleh bangsa Indonesia tetapi oleh semua bangsa di dunia. Banjir,
kekeringan, timbulnya penyakit, gagalnya panen, merupakan beberapa diantara
dampak akibat perubahan iklim.
Hasil kajian IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) memastikan bahwa perubahan iklim global terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi oleh gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida dan metana, yang dihasilkan oleh manusia. Artinya, aktivitas manusia turut berperan penting terhadap perubahan iklim saat ini.
Menyadari hal itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim tersebut. Dari sisi masyarakat, gerakan menanam pohon, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor melalui gerakan sepeda (bike to work), pemisahan sampah di rumah tangga dan kegiatan lainnya setidaknya merupakan upaya nyata untuk menjawab tantangan perubahan iklim.
Dari sisi swasta, dalam kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility ) mereka mulai melakukan aksinya dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, dan langkah-langkah konkret untuk mencapai target tersebut.
Dari sisi pemerintah, Kementerian PU terus berupaya mengimplementasikan kebijakan di bidang infrastruktur yang berorientasidemi mengatasi fenomena perubahan iklim. Kebijakan itu sudah diawali pembangunan bangunan hijau (green building), salah satunya gedung baru Kementerian PU. Di samping itu terdapat kebijakan green construction yang mencoba mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah. Dalam skala yang lebih besar juga dilakukan pengembangan ruang terbuka hijau (RTH), dan upaya mendorong pembangunan kota menuju green city. Kota hijau dapat dipahami sebagai kota ramah lingkungan, hemat energi dan berpihak pada prinsip-prinsip berkelanjutan baik secara lingkungan, sosial dan ekonomi dan tata kelola. Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) sudah di-launch oleh Menteri PU, Djoko Kirmanto pada tanggal 26 September 2011 di Jakarta dan diikuti oleh 60 kabupaten/kota yang sudah menyelesaikan perdanya dan telah mendapat persetujuan substansi.
Kiranya, perubahan Iklim tidak hanya menjadi sekedar tema pada peringatan Hari Habitat Dunia 2011 kali ini, namun perlu upaya nyata dan konsisten agar kita benar-benar siap menghadapi perubahan iklim . Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya - yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.
Hasil kajian IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) memastikan bahwa perubahan iklim global terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi oleh gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida dan metana, yang dihasilkan oleh manusia. Artinya, aktivitas manusia turut berperan penting terhadap perubahan iklim saat ini.
Menyadari hal itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim tersebut. Dari sisi masyarakat, gerakan menanam pohon, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor melalui gerakan sepeda (bike to work), pemisahan sampah di rumah tangga dan kegiatan lainnya setidaknya merupakan upaya nyata untuk menjawab tantangan perubahan iklim.
Dari sisi swasta, dalam kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility ) mereka mulai melakukan aksinya dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, dan langkah-langkah konkret untuk mencapai target tersebut.
Dari sisi pemerintah, Kementerian PU terus berupaya mengimplementasikan kebijakan di bidang infrastruktur yang berorientasidemi mengatasi fenomena perubahan iklim. Kebijakan itu sudah diawali pembangunan bangunan hijau (green building), salah satunya gedung baru Kementerian PU. Di samping itu terdapat kebijakan green construction yang mencoba mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah. Dalam skala yang lebih besar juga dilakukan pengembangan ruang terbuka hijau (RTH), dan upaya mendorong pembangunan kota menuju green city. Kota hijau dapat dipahami sebagai kota ramah lingkungan, hemat energi dan berpihak pada prinsip-prinsip berkelanjutan baik secara lingkungan, sosial dan ekonomi dan tata kelola. Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) sudah di-launch oleh Menteri PU, Djoko Kirmanto pada tanggal 26 September 2011 di Jakarta dan diikuti oleh 60 kabupaten/kota yang sudah menyelesaikan perdanya dan telah mendapat persetujuan substansi.
Kiranya, perubahan Iklim tidak hanya menjadi sekedar tema pada peringatan Hari Habitat Dunia 2011 kali ini, namun perlu upaya nyata dan konsisten agar kita benar-benar siap menghadapi perubahan iklim . Perubahan iklim global merupakan malapetaka yang akan datang! Kita telah mengetahui sebabnya - yaitu manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi.
Kita sudah
mengetahui sebagian dari akibat pemanasan global ini - yaitu mencairnya
tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan,
penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan
gelombang badai besar. Kita juga telah mengetahui siapa yang akan terkena
dampak paling besar - Negara pesisir pantai, Negara kepulauan, dan daerah
Negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara.
Selama
bertahun-tahun kita telah terus menerus melepaskan karbondioksida ke atmosfir
dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara, gas
bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami
dunia, yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim
yang tidak dapat diprediksi juga mematikan. Greenpeace percaya bahwa hanya
dengan langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal
dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih
parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal didalamnya.
Sebagai
sebuah organisasi global berskala internasional, Greenpeace memusatkan
perhatian kepada mempengaruhi kedua pihak yaitu masyarakat dan para pemegang
keputusan atas bahaya dibalik penambangan dan penggunaan bahan bakar yang
berasal dari fosil. Sebagai organisasi regional, Greenpeace Asia Tenggara
memusatkan perhatian sebagai saksi langsung atas akibat dari perubahan iklim
global, dan meningkatkan kesadaran publik tentang masalah yang sedang
berlangsung. Greenpeace SEA juga berusaha mengupayakan perubahan kebijakan
penggunaan energi di Asia Tenggara di masa depan - yaitu beranjak dari
ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil kearah sumber-sumber energi yang
terbarukan, bersih dan berkelanjutan.
Cuaca dan iklim
merupakan dua kondisi yang hampir sama tetapi berbeda pengertian khususnya
terhadap kurun waktu. Cuaca merupakan bentuk awal yang dihubungkan dengan
penafsiran dan pengertian akan kondisi fisik udara sesaat pada suatu lokasi dan
suatu waktu, sedangkan iklim merupakan kondisi lanjutan dan merupakan kumpulan
dari kondisi cuaca yang kemudian disusun dan dihitung dalam bentuk rata-rata
kondisi cuaca dalam kurun waktu tertentu (Winarso, 2003). Menurut Rafi’i (1995)
Ilmu cuaca atau meteorologi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji
peristiwa-peristiwa cuaca dalam jangka waktu dan ruang terbatas, sedangkan ilmu
iklim atau klimatologi adalah ilmu pengetahuan yang juga mengkaji tentang
gejala-gejala cuaca tetapi sifat-sifat dan gejala-gejala tersebut mempunyai
sifat umum dalam jangka waktu dan daerah yang luas di atmosfer permukaan bumi.
Trewartha and Horn (1995) mengatakan bahwa iklim
merupakan suatu konsep yang abstrak, dimana iklim merupakan komposit dari
keadaan cuaca hari ke hari dan elemen-elemen atmosfer di dalam suatu kawasan
tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Iklim bukan hanya sekedar cuaca
rata-rata, karena tidak ada konsep iklim yang cukup memadai tanpa ada apresiasi
atas perubahan cuaca harian dan perubahan cuaca musiman serta suksesi
episode cuaca yang ditimbulkan oleh gangguan atmosfer yang bersifat selalu
berubah, meski dalam studi tentang iklim penekanan diberikan pada nilai
rata-rata, namun penyimpangan, variasi dan keadaan atau nilai-nilai yang
ekstrim juga mempunyai arti penting.
Trenberth, Houghton and Filho (1995) dalam Hidayati (2001) mendefinisikan
perubahan iklim sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau
tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer yang akan
memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang. Menurut
Effendy (2001) salah satu akibat dari penyimpangan iklim adalah terjadinya
fenomena El-Nino dan La-Nina. Fenomena El-Nino akan menyebabkan penurunan
jumlah curah hujan jauh di bawah normal untuk beberapa daerah di Indonesia.
Kondisi sebaliknya terjadi pada saat fenomena La-nina berlangsung.
Proses terjadinya cuaca
dan iklim merupakan kombinasi dari variabel-variabel atmosfer yang sama yang
disebut unsur-unsur iklim. Unsur-unsur iklim ini terdiri dari radiasi surya,
suhu udara, kelembaban udara, awan, presipitasi, evaporasi, tekanan udara dan
angin. Unsur-unsur ini berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat
yang disebabkan oleh adanya pengendali-pengendali iklim (Anon, ? ). Pengendali
iklim atau faktor yang dominan menentukan perbedaan iklim antara wilayah yang
satu dengan wilayah yang lain menurut Lakitan (2002) adalah (1) posisi relatif
terhadap garis edar matahari (posisi lintang), (2) keberadaan lautan atau
permukaan airnya, (3) pola arah angin, (4) rupa permukaan daratan bumi, dan (5)
kerapatan dan jenis vegetasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Doni,ahmad.2008.perubahan iklim dunia.jakarta:jpbook
Susilo,djoko.2004.gejolak iklim.bandung:wordpress
Azar,dwiki.2006.bumi tempat kehidupan.semarang:buku
elektronik


